Larangan bertaqlid buta oleh 4 Imam Madzhab

LARANGAN BERTAQLID BUTA OLEH EMPAT IMAM


Berikut ini adalah pernyataan A`immah yang empat agar tidak bertaklid kepada mereka dan perintah untuk ittiba’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, dan meninggalkan pendapat siapapun yang menyelisihi As-Sunnah:

1. 1. Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit rahimahullah
Berikut ini adalah Pernyataan Imam Abu Hanifah tentang larangan bertaqlid buta:
ﺇِﺫَﺍ ﺻَﺢَّ ﺍﻟْﺤَﺪﻳﺚُ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺬْﻫَﺒِﻲ
“Jika suatu Hadits shahih, itulah madzhabku.” [Ibnu Abidin dalam al-Haasiyah (1/63) dan di dalam risalahnya Rasmun al-Mufti (1/4) dari Majmuu’atur Rasaa`il Ibnu Abidin dan Syaikh Shalah Al-Falaani dalam Iqaazhul Himam (hlm. 62)]
ﻻَ ﻳَﺤِﻞُّ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺧُﺬَ ﺑِﻘَﻮﻟِﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﻠَﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻳْﻦَ ﺃَﺧَﺬْﻧَﺎﻩُ * ﻓﺈِﻧَّﻨَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﻧَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻘَﻮﻝَ ﺍﻟﻴّﻮﻡَ ﻭﻧَﺮْﺟِﻊُ ﻋَﻨْﻪُ ﻏَﺪًﺍ
“Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambilnya.” [Ibnu Abdil Barr dalam al-Intiqaa` dalam Fadhaa`il ats-Tsalatsah al-A`immah al-Fuqahaa` (hlm. 145) Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam I’laamu al-Muwaq’iin (hlm. 2/309) dan Ibnu Abidin dalam catatan-kakinya terhadap kitab al-Bahrur Raa`iq (6/293)]
Dalam riwayat lainnya:
ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﺮِﻑْ ﺩَﻟِﻴْﻠِﻲ ﺃَﻥْ ﻳُﻔْﺘِﻲَ ﺑِﻜَﻠَﺎﻣِﻲ
“Haram bagi seseorang menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa.”
Ditambah satu riwayat:
ﻓﺈِﻧَّﻨَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﻧَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻘَﻮﻝَ ﺍﻟﻴّﻮﻡَ ﻭﻧَﺮْﺟِﻊُ ﻋَﻨْﻪُ ﻏَﺪًﺍ
“Sesungguhnya kami adalah manusia, hari ini berbicara seperti ini esok hari kami tarik kembali perkataan itu.”
Dan dalam riwayat lainnya:
ﻭَﻳْﺤَﻚْ ﻳَﺎ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ ! ‏( ﻫﻮ ﺃَﺑُﻮ ﻳُﻮﺳُﻒ ‏) ﻟَﺎ ﺗَﻜْﺘُﺐْ ﻛُﻞَّ ﻣَﺎ ﺗَﺴْﻤَﻊُ ﻣِﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺪْ ﺃَﺭَﻯ ﺍﻟﺮَّﺃْﻱَ ﺍﻟْﻴَﻮﻡَ ﻭَ ﺃَﺗْﺮُﻛُﻪُ ﻏَﺪًﺍ ﻭَﺃَﺗْﺮُﻛُﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻏَﺪًﺍ
“Celakalah wahai Ya’qub! (Abu Yusuf) janganlah engkau menulis segala apa yang engkau dengar dariku, sesungguhnya bisa jadi aku berpendapat dengan suatu pendapat pada hari ini, lalu esok aku tinggalkan, dan bisa jadi aku berpendapat dengan suatu pendapat esok lalu setelah esoknya aku tinggalkan pendapat itu.”


1. 2. Imam Malik bin Anas rahimahullah
Berikut ini adalah Pernyataan Imam Malik bin Anas tentang larangan bertaqlid buta:
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸْﺮٌ، ﺃُﺧْﻄِﺊُ ﻭَﺃُﺻِﻴْﺐُ، ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭْﺍ ﻓِﻲ ﺭَﺃْﻳِﻲْ؛ ﻓَـﻜُﻞُّ ﻣَﺎ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓَﺨُﺬُﻭْﻩُ، ﻭَ ﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺍﻓِﻖِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓَﺎﺗْﺮُﻛُﻮْﻩُ
“Sesungguhnya aku hanya seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar, maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapatku yang sejalan dengan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, maka ambillah. Dan setiap pendapatku yang tidak sejalan (menyelisihi) Al-Kitab dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah dia.” [Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ Bayanil ‘Ilmi (2/32), Ibnu Hazm dalam Ushuulul al-Ahkam (6/149), dan juga Al-Fallani (hal. 72).]
( ﻟﻴﺲ ﺃﺣﺪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻻ ﻭﻳﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﻭﻳﺘﺮﻙ ﺇﻻ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ‏) . ‏( ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺒﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ 2 / 91 )
“Tidak ada seorang pun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan perkataannya bisa diambil dan bisa ditinggalkan, kecuali perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Ibnu Abdil Barr dalam al-Jaami’ (2/91)]
ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻭﻫﺐ : ﺳﻤﻌﺖ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﺗﺨﻠﻴﻞ ﺃﺻﺎﺑﻊ ﺍﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻓﻘﺎﻝ : ﻟﻴﺲ ﺫﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ . ﻗﺎﻝ : ﻓﺘﺮﻛﺘﻪ ﺣﺘﻰ ﺧﻒ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ : ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺳﻨﺔ ﻓﻘﺎﻝ : ﻭﻣﺎ ﻫﻲ ﻗﻠﺖ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﻠﻴﺚ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻭﺍﺑﻦ ﻟﻬﻴﻌﺔ ﻭﻋﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺎﺭﺙ ﻋﻦ ﻳﺰﻳﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺍﻟﻤﻌﺎﻓﺮﻱ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺤﻨﺒﻠﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺴﺘﻮﺭﺩ ﺑﻦ ﺷﺪﺍﺩ ﺍﻟﻘﺮﺷﻲ ﻗﺎﻝ : ﺭﺃﻳﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺪﻟﻚ ﺑﺨﻨﺼﺮﻩ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺃﺻﺎﺑﻊ ﺭﺟﻠﻴﻪ . ﻓﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﻭﻣﺎ ﺳﻤﻌﺖ ﺑﻪ ﻗﻂ ﺇﻻ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺛﻢ ﺳﻤﻌﺘﻪ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻳﺴﺄﻝ ﻓﻴﺄﻣﺮ ﺑﺘﺨﻠﻴﻞ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ . ‏( ﻣﻘﺪﻣﺔ ﺍﻟﺠﺮﺡ ﻭﺍﻟﺘﻌﺪﻳﻞ ﻻﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ ﺹ 31 – 32 )
Berkata Ibnu Wahbin: “Saya mendengar Imam Malik ditanya tentang menyela-nyela jari-jemari kaki ketika berwudhu? Imam Malik berkata: ‘Amalan ini tidak dikerjakan orang-orang’. Ibnu Wahbin berkata: ‘Lalu aku tinggalkan Imam Malik hingga orang-orang di sekitarnya tinggal sedikit.’ Lalu aku katakana kepada Imam Malik; ‘Kami mempunyai dasar hadits Nabi tentang amalan itu.’ Imam Malik bertanya: ‘Apakah dasar haditsnya?’ Aku (Ibnu Wahbin) berkata: “Telah bercerita kepada kami al-Laits bin Sa’ad dan Ibnu Luhai’ah dan Amru bin al-Harits dari Yazid bin Amru al-Mu’afiri dari ayahku Abdurrahman al-Hanbali dari al-Mastaurid bin Syadad al-Qursyi ia berkata: “Saya melihat Rasulullah menyela-nyela jari-jemari kakinya dengan jari kelingkingnya.” Kemudian Imam Malik berkata: ‘Sesungguhnya hadits ini (derajatnya) hasan dan aku tidak pernah mendengarnya melainkan hari ini, dan aku (Ibnu Wahbin) mendengar beliau setelah (mengetahui hadits) itu tatkala beliau ditanya tentang hal itu maka beliau pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking.” [Muqaddimah al-Jarh wa Ta’dil Ibnu Abi Hatim (hlm. 31-32) dan al-Baihaqi dalam sunan-nya (1/81)]


1. 3. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah
Berikut ini adalah Pernyataan Imam Syafi’i tentang larangan bertaqlid buta:
( ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﺣﺪ ﺇﻻ ﻭﺗﺬﻫﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺳﻨﺔ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺗﻌﺰﺏ ﻋﻨﻪ ﻓﻤﻬﻤﺎ ﻗﻠﺖ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺃﻭ ﺃﺻﻠﺖ ﻣﻦ ﺃﺻﻞ ﻓﻴﻪ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻗﻠﺖ ﻓﺎﻟﻘﻮﻝ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻟﻲ ‏) . ‏( ﺗﺎﺭﻳﺦ ﺩﻣﺸﻖ ﻻﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ 15 / 1 / 3 )
“Tidak seorang pun melainkan harus mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apapun pendapat yang aku ucapkan atau ushul yang aku susun dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi apa yang aku ucapkan maka apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itulah pendapatku.” [Tarikh Damaskus Ibnu Asakir (15/1/3)]
( ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺒﺎﻥ ﻟﻪ ﺳﻨﺔ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﺤﻞ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺪﻋﻬﺎ ﻟﻘﻮﻝ ﺃﺣﺪ ‏) . ‏( ﺍﻟﻔﻼﻧﻲ ﺹ 68 )
“Kaum muslimin bersepakat bahwasanya barangsiapa yang telah jelas sunnah baginya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidak dihalalkan baginya meninggalkannya dikarenakan perkataan seseorang.” [Al-Fallani (hlm.68)]
( ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺗﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻲ ﺧﻼﻑ ﺳﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﻮﻟﻮﺍ ﺑﺴﻨﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺩﻋﻮﺍ ﻣﺎ ﻗﻠﺖ ‏) . ‏( ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ‏( ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﻫﺎ ﻭﻻ ﺗﻠﺘﻔﺘﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﻝ ﺃﺣﺪ ‏) . ‏( ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ 1 / 63 )
“Jika kalian mendapatkan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ambilah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkan perkataanku (dalam satu riwayat: ikutilah sunnah dan janganlah menoleh kepada perkataan seseorang).” [An-Nawawi dalam al-Majmuu’ (1/63)]
( ﺇﺫﺍ ﺻﺢ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻬﻮ ﻣﺬﻫﺒﻲ ‏) . ‏( ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ 1 / 63)
“Jika hadits itu shahih maka itulah madzhabku.” [An-Nawawi al-Majmuu’ (1/63)]
ﺃﻧﺘﻢ ﺃﻋﻠﻢ ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻣﻨﻲ ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻓﺄﻋﻠﻤﻮﻧﻲ ﺑﻪ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﻳﻜﻮﻥ : ﻛﻮﻓﻴﺎ ﺃﻭ ﺑﺼﺮﻳﺎ ﺃﻭ ﺷﺎﻣﻴﺎ ﺣﺘﻰ ﺃﺫﻫﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺻﺤﻴﺤﺎ ‏) . ‏( ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﻓﻲ ﺍﻻﺣﺘﺠﺎﺝ ﺑﺎﻟﺸﺎﻓﻌﻲ 8 / 1
“Engkau (Ahmad bin Hambal) lebih mengetahui hadits dan para perawinya daripadaku, jika hadits itu shahih maka beritahukanlah kepadaku di mana pun perawinya berada, baik itu di Kuffah, Bashrah, atau Syam maka aku akan menemuinya jika hadits itu shahih.” [Al-Khathib dalam al-Ihtijaj bisy-Syafi’i i (1/8), perkataan ini ditujukan kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Adabusy Syafi’i (hlm.94-95) dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (9/106)]
ﻛﻞ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺻﺢ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻨﻘﻠﺒﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﻗﻠﺖ ﻓﺄﻧﺎ ﺭﺍﺟﻊ ﻋﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺣﻴﺎﺗﻲ ﻭﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻲ ‏( ﺃﺑﻮ ﻧﻌﻴﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻠﻴﺔ 9 / 107
“Setiap permasalahan yang shahih di dalamnya khabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut ahli hadits menyelisihi apa yang aku ucapkan maka aku rujuk baik tatkala aku masih hidup maupaun tatkala aku sudah wafat.” [Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (9/107)]
( ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺘﻤﻮﻧﻲ ﺃﻗﻮﻝ ﻗﻮﻻ ﻭﻗﺪ ﺻﺢ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﻼﻓﻪ ﻓﺎﻋﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ ﻋﻘﻠﻲ ﻗﺪ ﺫﻫﺐ ‏) . ‏( ﺍﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﺑﺴﻨﺪ ﺻﺤﻴﺢ 15 / 10 / 1 )
“Jika kalian melihat saya mengeluarkan suatu pendapat dan ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyelisihinya ketahuilah bahwa pendapatku telah hilang.” [Ibnu Abi Hatim dalam Adabusy Syafi’i (hlm. 93) Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (9/106) Ibnu Asakir dengan sanad yang shahih (15/10/1)]
( ﻛﻞ ﻣﺎ ﻗﻠﺖ ﻓﻜﺎﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﻼﻑ ﻗﻮﻟﻲ ﻣﻤﺎ ﻳﺼﺢ ﻓﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﻭﻟﻰ ﻓﻼ ﺗﻘﻠﺪﻭﻧﻲ ‏) . ‏( ﺍﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ ﺑﺴﻨﺪ ﺻﺤﻴﺢ 15 / 9 / 2 )
“Setiap apa-apa yang aku ucapkan apabila (terpadat) dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih menyelisihinya maka hadits Nabi lebih utama maka janganlah kalian bertaklid kepadaku.” [Ibid]
( ﻛﻞ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻬﻮ ﻗﻮﻟﻲ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺴﻤﻌﻮﻩ ﻣﻨﻲ ‏) . ‏( ﺍﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﺎﺗﻢ 93 – 94 )
“Setiap hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pendapatku walaupun kalian tidak pernah mendengarnya dariku.” [Ibnu Abi Hatim (93-94)]


1. 4. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Berikut ini adalah Pernyataan Imam Ahmad tentang larangan bertaqlid buta:
ﻻَ ﺗُـﻘَـﻠِّـﺪْﻧِﻲْ ﻭَﻻَ ﺗُـﻘَـﻠِّـﺪْ ﻣَﺎﻟِﻜًﺎ ﻭَﻻَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲَّ ﻭَﻻَ ﺍﻟْﺄَﻭْﺯَﺍﻋِﻲَّ ﻭَﻻَ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِﻱَّ؛ ﻭَﺧُﺬْ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﺃَﺧَﺬُﻭْﺍ
“Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula taqlid kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, dan Ats-Tsauri, tetapi ambillah dari mana mereka mengambil (yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah).” [Al-Fallani (hlm. 113) dan Ibnu Qayyim dalam I’laamul Muwaqi’in (2/302)]
ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : ‏( ﻻ ﺗﻘﻠﺪ ﺩﻳﻨﻚ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻦ ﻫﺆﻻﺀ ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻓﺨﺬ ﺑﻪ ﺛﻢ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻴﻪ ﻣﺨﻴﺮ ‏) ‏( ﺍﻻﺗﺒﺎﻉ ﺃﻥ ﻳﺘﺒﻊ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻣﺎ ﺟﺎﺀ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻋﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﺛﻢ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻣﺨﻴﺮ ‏) . ‏( ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻓﻲ ﻣﺴﺎﺋﻞ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺹ 276 – 277 )
Dalam satu riwayat: “Janganlah taklid kepada siapapun dalam urusan agama, apa saja yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya maka ambilah ia, adapun terhadap orang sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya (tabi’in) seseorang boleh memilih pendapatnya.” Dan Beliau juga berkata: “Para pengikut itu adalah orang yang mengikuti ajaran Nabi dan perkataan para shahabat, setelah itu ucapan para tabi’in boleh dipilih.” [Abu Dawud dalam Masaa`il al-Imam Ahmad (hlm. 276-277)]
ﺭﺃﻱ ﺍﻷﻭﺯﺍﻋﻲ ﻭﺭﺃﻱ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺭﺃﻱ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻛﻠﻪ ﺭﺃﻱ ﻭﻫﻮ ﻋﻨﺪﻱ ﺳﻮﺍﺀ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻓﻲ ﺍﻵﺛﺎﺭ . ‏( ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺒﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ 2 / 149
“Pendapat al-Auza`i, pendapat Malik dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, bagiku semuanya sama dan hujjah itu hanya terdapat pada atsar.” [Ibnu Abdil Barr dalam al-Jaami’ (2/149)]
( ﻣﻦ ﺭﺩ ﺣﺪﻳﺚ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻬﻮ ﻋﻠﻰ ﺷﻔﺎ ﻫﻠﻜﺔ ‏) . ‏( ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻗﺐ ‏( ﺹ 182 )
“Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia berada dalam tepi jurang kehancuran.” [Ibnul Jauzi dalam al-Manaaqib (hlm. 182)]


Demikianlah pernyataan A`immah agar kita senantiasa ittiba’ dan taraju’ kepada As-Sunnah serta meninggalkan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan sekaligus larangan untuk bertaklid (mengikuti tanpa dasar) buta terhadap siapapun. Wallahu a’lam bish-shawwab.



























0 Response to "Larangan bertaqlid buta oleh 4 Imam Madzhab"

Post a Comment