Meretas Jalan Sufi alaa Dahlan Iskan

Tidak sembarangan orang bisa menjalani hidup layaknya sufi apalagi seperti wali. Para sufi dan wali adalah mereka yang sudah “paripurna” secara syariat, tenggelam dalam indahnya hidup bermakrifat tanpa peduli lagi gemerlapnya dunia. Meretas jalan menuju kesufian identik dengan meninggalkan urusan dunia. Tidak mudah menjadi sosok sufi atau wali. Tidak selalu belajar tasawuf bisa menjadi sufi dan tidak selalu orang yang sakti adalah seorang wali.
Ilmu tasawuf hanya jembatan. Untuk menjadi sufi apalagi menjadi wali kuncinya ada di hati dan juga keberkahan dari Tuhan.
Simbol simbol kesufian tidak selalu ditunjukkan dengan sorban putih dan untaian tasbih yang panjang panjang. Dukun dukun sekarang pun tidak ada lagi yang mukanya seram, beberapa diantaranya malah klimis rajin pakai sorban meski tidak pernah sembayang. Seseorang tidak bisa disebut wali hanya karena hidupnya “nyleneh”, tidak pernah makan, sakti bisa terbang apalagi yang sering jadi rujukan keluarnya nomor undian.
Menjadi sufi atau wali hanya bisa bila seseorang benar benar telah mengenal dirinya sendiri dan Tuhan yang telah menciptakannya.
Penampilan seorang sufi atau wali kadang bisa menipu mata kita. Mereka bisa tampil dalam sosok seorang pengemis gembel atau bisa juga pengusaha necis berdasi. Jangan mudah menghakimi seseorang itu sufi atau bukan, wali atau bukan hanya dari tampilan luarnya saja. Beberapa wali memang ada yang menyamar jadi orang gila, tapi pasti lebih banyak yang gila beneran daripada wali sungguhan
Ambilah contoh sosok seperti Dahlan Iskan.Tidak ada yang tahu dia itu sufi atau bukan.Dahlan sendiri juga tidak pernah dan tak akan pernah mengatakannya karena itu tidak penting baginya.Dahlan hanyalah seorang menteri pejabat negara yang juga Ketua Syekher Nasional.Sebuah Majelis Akbar para santri pimpinan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf yang dekat dengan dunia tasawuf.
Kesibukan dan penampilan nyentriknya sebagai menteri rupanya tak menghalangi Dahlan untuk berkiprah di majelis yang selalu membacakan sholawat kepada Rasulullah saw di setiap pertemuannya itu. Tentu bukan kebetulan semata bila kemudian sosok seperti Dahlan didaulat menjadi ketuanya secara nasional.
Dahlan Iskan bukanlah sosok yang asing dengan ajaran tasawuf.Masa kecil Dahlan memang erat dengan dunia pesantren.Dahlan dibesarkan dalam keluarga besar penganut tarekat Syattariyah.Sebuah ajaran tarekatyang mengembangkan ajaran tasawuf di dunia Melayu-Indonesia dengan kecenderungan Neosufisme (perpaduan antara ajaran tasawuf dan syariat). KakeknyaKH Hasan Ulama adalah Mursyid tarekat ini.
Bertahun tahun hidup di dunia jurnalistik saat menangani Jawa Pos dan terakhir sebagai pejabat negara, Dahlan tetaplah seorang salik yang rindu mencari akar kebahagiaan sejati bersama Tuhannya. Sesuatu yang ia temukan ada pada dunia tasawwuf.
Dengan jabatan menteri negara di pundaknya, sehari hari urusan Dahlan adalah dunia dengan segala keruwetannya.Sesuatu yang memang sejak awal dihindari oleh para sufi karena sudah merasakan nikmatnya berkhalwat dengan Sang Pencipta.
Bila kemudian Dahlan Iskan memutuskan untuk terjun bahkan tenggelam dalam urusan dunia, itu artinya Dahlan telah menemukan jalannya sendiri. Meretas jalan sufinya sendiri dengan menghadapi kerasnya dunia bukan dengan menghindarinya.
Dahlan pasti tahu benar bahwa dasar dari tasawwuf adalah syariat. Dan dalam dunia Islam hanya Al-Quran dan Sunnah yang menjadi pedoman seseorang untuk hidup berdasar tuntunan syariat. Dahlan juga pasti tahu sebuah hadis yang terucap dari bibir Nabinya yang mulia Muhammad saw bahwa sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.Pada titik inilah seorang Dahlan Iskan menentukan sendiri jalan tasawwufnya.
Pada titik ini pula kita memahami berbagai langkah Dahlan yang bagi orang awam di luar akal dan logika. Bukankah Dahlan bisa hidup tenteram sesuai cita citanya di masa tua, mengelola pesantren tarekatnya sambil menularkan ilmu jurnalistiknya. Bukankah Seorang Dahlan Iskan bisa menghabiskan masa tuanya bersama cucu cucu tercintanya dengan gelimangan harta yang tak habis dimakan bahkan sampai tujuh turunan. Kenapa kemudian ia memilih repot repot mengurusi dunia yang kadang kejam kepada diri dan keluarganya.
Sudah tak terhitung berapa kali ia dan keluarganya dihujat dan difitnah dengan resiko masuk penjara. Dalam insiden Tucuxi bahkan ia hampir kehilangan nyawanya. Tak terhitung pula berapa kali istrinya Nafsiah Sabri mengingatkannya untuk hidup normal normal saja.
Bagi Dahlan semua yang ia lakukan sudah ia niatkan sebagai ibadah. Mencari keridhaan Sang Khalik yang sudah menciptakannya di dunia ini. Segala fitnahan, hujatan dan makian itu tak sebanding dengan dengan nikmat dan karunia hidup yang sudah ia perolehnya selama ini. Saat Dahlan memilih berjalan blusukan di seantero negeri tanpa gaji dan fasilitas apapun, bahkan kadang harus merogoh uang pribadinya, sebagian orang mungkin menganggapnya sudah gila.
Sebuah ”kegilaan” yang wajar bagi Dahlan. Mengingat sufi dan wali yang yang paling tinggi tingkatannya sekalipun biasanya juga dianggap orang gila. Bila para auliya itu menjadi ”gila” untuk menyembunyikan identitas aslinya, bagi Dahlan dia tunjukkan ”kegilaannya” itu untuk membangun bangsa dan negaranya, untuk kesejahteraan rakyatnya.
Tapi ”kegilaan” Dahlan bukanlah kegilaan yang membabi buta. Semua ada hitung hitungannya pakai akal dan logika. Dahlan juga orang yang paham akan etika. Sikap nurut dan santun Dahlan kepada SBY pun ada tuntunannya, bahwa pemimpin yang baik dulunya adalah bawahan yang baik pula. Dahlan tidak akan pernah ikut konvensi bila tidak diminta oleh Presiden SBY. Semua itu sudah diatur dalam agamanya untuk menggunakan akal sehat dan taat kepada pemimpin selama untuk kebaikan.
Dahlan Iskan juga ibarat orang yang sudah putus urat takutnya. Siapapun dihadapinya apa saja dilawannya. Bila ia merasa apa yang ia perjuangkan itu benar tak perlu takut pada siapa siapa kecuali kepada pemilik kebenaran itu sendiri. Saat Tuhan memberi ”amunisi baru” dengan mengganti hatinya tekadnya pun semakin membaja. Jadi sia sia saja menghadapi Dahlan dengan cara menghujat, memaki atau mengatakannya gila. Jangankan makian dan hujatan nyawa pun seolah siap kapan saja ia berikan kepada Sang Penciptanya, Allah Azza Wajalla.
Terlalu dini untuk mengatakan bahwa Dahlan seorang sufi atau bahkan seorang wali. Seorang itu wali atau bukan hanya wali lain dan Allah yang tahu pastinya. Bila para sufi memiliki tarian sufi (whirling dance) yang dilakukan para Darwis sambil berputar, Dahlan tiap pagi malah bersenam ria dengan para ibu ibu di Monas dengan goyang caesarnya. Bila para sufi dan wali itu khusuk menyendiri berdzikir dengan Tuhannya Dahlan memilih berjibaku melawan kerasnya dunia.
Tetapi satu hal yang pasti yang dimiliki oleh para wali dan juga Dahlan adalah bahwa keduanya tidak pernah takut dan tidak ada kesedihan karena selalu beriman dan bertakwa kepada Tuhannya.
”Ingatlah, wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung” (QS Yunus 62 – 64).
Tak pernah ada rasa takut sedikitpun saat Dahlan menerima cacian dan hujatan. Bagi Dahlan yang fitnah terkeji pun dia balas dengan senyuman tentu akan menjadi berita luar biasa bila ia sampai mau menanggapinya. Dahlan pun yakin bahwa kehormatan diri dan keluarganya tak akan hina di mata Tuhannya hanya karena fitnah dan hujatan semata. Para relawan Dahlan lah yang harus bisa belajar lebih sabar saat idolanya dicaci dan dimaki maki.
Dimata relawan dan simpatisannya Dahlan Iskan sungguh sosok sufi yang berwujud menteri. Sosok menteri yang bahkan tokoh FPI segarang Habieb Rizieq pun luluh oleh kharismanya.Menteri Dahlan memang dikenal luas oleh para komunitas Habieb di Indonesia dengan jutaan jamaahnya.
Maka dalam sebuah pertemuanketika Syech Maulana Muhammad Hisyam Kabbani yang guru tasawwuf moderen itu melepas sorban yang dikenakannya lalu mengenakannya di kepala Dahlan sontak Dahlan tak kuasa menahan tangisnya.Dia begitu terharu sehingga dia pun duduk tersungkur di pangkuan Syech Maulana Hisham.
Mungkin Dahlan terharu akan kerinduan begitu dalam kepada Sang Khalik yang menciptakannya, mungkin dia terharu akan nikmat luar biasa yang sudah diterimanya, yang membalasnya meski dengan ibadah seribu tahun di muka bumi belum setimpal dibanding secuil nikmat yang sudah ia terima ketika di dunia.
Sufi atau bukan, wali atau bukan semoga Dahlan Iskan diberi kesempatan untuk menjadi wali negara (Pemimpin) negeri ini, pemimpin yang bisa mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang adil, makmur, sejahtera dan bermartabat di mata dunia.
(Salam)
1.Suluk(Salik) secara harfiah berartimenempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islamdan sufisme, katasulukberartimenempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah
2. KhalwatArtinya menyendiri, mengasingkan diri dan memencilkan diri. Menyendiri pada satu tempat tertentu, jauh dari keramaian dan orang banyak selama beberapa hari untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalat dan amaliah lainnya

0 Response to "Meretas Jalan Sufi alaa Dahlan Iskan"

Post a Comment