Akibat canggihnya teknologi komunukasi

Teknologi komunikasi baru khususnya
internet telah mengubah pola interaksi
manusia. Artinya dewasa ini dengan
menggunakan internet, ponsel atau
sarana sejenisnya, email dan voice
maka jalinan komunikasi kian murah.
Internet adalah media dua arah
(interaktif). Audiens internet bukan
sekedar pendengar murni, namun ia
memiliki kemampuan untuk menyebar
topik tersebut dan bahkan pula
memberi komentar.
Selain karakteristik khusus teknologi ini,
daya tarik serta esensi tak terbatas
internet membuat pemuda menjadi
salah satu kelompok yang
menggandrungi teknologi dunia maya
ini. Pemuda saat ini hanya dengan
menekan salah satu tombol komputer
atau ponsel sudah dapat berhubungan
dengan teman atau orang di kawasan
benua lain, memberi komentar, aktif
dalam dialog atau mengemukakan
protesnya.
Pemuda juga mampu mengakses
perpustakaan digital dan menambah
pengetahuannya dengan membaca
buku dari beragam disiplin ilmu. Melalui
internet mereka dapat belajar
mengungkapkan pendapat dan ide
serta mengenal budaya global. Kondisi
generasi muda saat ini yang
dihadapkan pada beragam budaya
serta berbagai artikel yang disuguhkan
internet oleh negara-negara Barat
membuat pola pikir, sikap pribadi dan
sosial mereka sangat berbeda dengan
generasi masa lalu.
Pemuda adalah individu yang bila
dilihat secara fisik sedang mengalami
perkembangan dan secara psikis
sedang mengalami perkembangan
emosional, sehingga pemuda
merupakan sumber daya manusia
pembangunan baik saat ini maupun
masa datang. Sebagai calon generasi
penerus yang akan menggantikan
generasi sebelumnya. Secara
internasional, WHO menyebut sebagai”
young people” dengan batas usia
10-24 tahun, sedangkan usia 10-19
tahun disebut ”adolescenea” atau
remaja. International Youth Year yang
diselenggarakan tahun 1985,
mendefinisikan penduduk berusia
15-24 tahun sebagai kelompok
pemuda.
Pemuda juga didefinisikan sebagai
individu dengan karakter yang dinamis,
bahkan bergejolak dan optimis namun
belum memiliki pengendalian emosi
yang stabil. Pemuda menghadapi masa
perubahan sosial maupun kultural.
Pemuda adalah mereka yang berusia
antara 18 hingga 35 tahun. Menilik dari
sisi usia maka pemuda merupakan
masa perkembangan secara biologis
dan psikologis. Oleh karenanya pemuda
selalu memiliki aspirasi yang berbeda
dengan aspirasi masyarakat secara
umum. Dalam makna yang positif
aspirasi yang berbeda ini disebut
dengan semangat pembaharu.
Dalam kosakata bahasa Indonesia,
pemuda juga dikenal dengan sebutan
generasi muda dan kaum muda.
Seringkali terminologi pemuda,
generasi muda, atau kaum muda
memiliki definisi beragam. Definisi
tentang pemuda di atas lebih pada
definisi teknis berdasarkan kategori
usia sedangkan definisi lainnya lebih
fleksibel. Dimana pemuda/ generasi
muda/kaum muda adalah mereka yang
memiliki semangat pembaharu dan
progresif.
Generasi muda saat ini yang aktif di
dunia maya dan dihadapkan beragam
informasi membuat identitas mereka
terancam. Salah satu bagian terpenting
yang terpengaruh teknologi
komunikasi modern adalah identitas
diri. Di masyarakat modern, pemuda
memiliki beragam sumber yang
masing-masing menyebarkan nilai-nilai
serta pola hidup yang berbeda. Di sisi
lain, sumber-sumber yang membentuk
karakter dan identitas seperti keluarga,
lingkungan, etnis dan kebangsaan
sedikit demi sedikit mulai terkikis.
Di dunia modern saat ini, yang disebut
sebagai era ledakan informasi, identitas
dan karakter telah kehilangan arti
terdahulunya. Besarnya perubahan
identitas diri di generasi baru sangat
serius dan di sejumlah kasus malah
memunculkan krisis identitas. Pemuda
khususnya di masa pubertas, masa
pembentukan identitas diri, senantiasa
berusaha mengungkap nilai-nilai dan
menginternalisasikannya. Ketika berada
di internet dan dihadapkan pada
beragam informasi yang menakjubkan,
para pemuda terpaksa menemukan
identitas dirinya di dunia maya.
Identitas diri adalah faktor yang
membentuk karakteristik seseorang,
sementara identitas sosial terbentuk
akibat interaksi dengan kelompok atau
anggota masyarakat lainnya.
Dewasa ini merupakan arena budaya
dan sosial, di mana pemuda
memainkan beragam peran dan gaya
hidupnya. Oleh karena itu, bagian
identitas diri pemuda terbentuk akibat
interaksinya dengan media ini. Maka
dari itu, dengan fasilitas dan beragam
pilihan yang diberikan media massa
termasuk internet kepada pemuda,
mereka senantiasa dikenalkan dengan
motivasi dan perilaku baru. Kondisi
seperti ini terus menciptakan identitas
yang tak jelas dan terus berubah.
Maraknya teknologi informasi dan
komunikasi telah mengubah sebagian
besar nilai-nilai, pandangan serta pola
hidup seseorang khususnya para
pemuda. Beragam kanal televisi, radio,
situs internet dan media sosial lainnya
merupakan kekuatan besar dalam
mempengaruhi budaya seseorang.
Media ini tentu saja juga memberikan
pengaruh besar pada perilaku pemuda.
Pengaruh ini tidak terbatas pada gaya
pemikiran generasi muda, namun juga
merembet pada model rambut, pakaian
serta tata cara berinteraksi dengan
orang lain.
Jurgen Haberman, filosof Jerman
termasuk dalam jajaran kritikus
munculnya teknologi satelit dan
informasi digital serta dampaknya bagi
dunia. Ia meyakini bahwa budaya
konsumtif telah dikuasai model
Amerika. Budaya ini bukan saja
dipaksakan ke wilayah jauh, bahkan di
Barat sendiri, budaya ini telah
menghapus serta memperlemah akar
tradisi lokal. Sejatinya media dan
fasilitas informasi lebih cenderung
menyebarkan budaya materialis,
hedonis dan individualis milik Barat.
Salah satu dampak dari kondisi ini
adalah menurunnya komitmen agama
dan moral dalam diri pemuda.
Mengingat produsen dan penyusun
program teknologi media sosial,
informasi dan komunikasi ini
mayoritasnya negara-negara Barat,
maka tak heran jika film dan situs-situs
internet mempengaruhi identitas
budaya dan etnis negara-negara
konsumen serta memperlemah budaya
mereka.
Salah satu fasilitas berbahaya internet
adalah pengguna dengan mudah dapat
berpetualang dengan di dunia maya
dengan identitas palsu dan misterius.
Mayoritas mereka yang aktif di ruang
chat dan berinteraksi dengan orang
lain, tampil dengan identitas palsu.
Mereka juga mengumbar kata-kata
bohong yang sengaja mereka rangkai.
Oleh karena itu, bisa saja pribadi-
pribadi misterius ini mempengaruhi
pada pemuda dengan memberikan
teladan, nilai-nilai dan ideologi sesat.
Salah satu karakteristik kemudahan
penggunaan identitas palsu adalah
memudahkan para pemuda untuk
berpetualang di dunia maya. Di dunia
maya, para pemuda menemukan
kesempatan untuk memainkan peran
apa pun yang diinginkannya. Sejatinya
pemuda menganggap dirinya berada
dalam sebuah kondisi privat yang
mampu mengekspresikan berbagai sisi
yang dimilikinya dengan bebas. Oleh
karena itu, internet bagi pemuda telah
menggantikan suasana umum dan
sosial.
Oleh karena itu, sejumlah pemuda
kebingungan ketika ditanya kedua
orang tuanya mengenai bagaimana ia
memanfaatkan internet. Meski dunia
maya memberi peluang bagi pemuda
untuk mengecap pengalaman
kemitraan lebih besar dengan
sesamanya, namun kendala yang
ditimbulkan oleh teknologi ini membuat
pemuda semakin berani untuk
membesarkan nilai-nilai dan ideologi
negatif di dunia maya tersebut.
Di dunia modern saat ini, institusi
keluarga telah kehilangan peran dan
kekuatannya, karena biasanya pemuda
yang aktif menggunakan internet lebih
sedikit menghabiskan waktunya
bersama keluarga. Pada akhirnya
ketergantungan dan hubungan
emosionalnya dengan anggota
keluarga yang lain, khususnya kedua
orang tua semakin pudar. Di sisi lain,
sebagian kandungan dan materi situs
internet tidak selaras dengan harapan
kedua orang tua yang mayoritasnya
dari generasi lama dan mengharapkan
sisi spiritualitas serta nilai-nilai moral.
Sejatinya internet telah memperlebar
jurang perbedaan antar generasi
antara orang tua dan anak.
Di sisi lain, di bidang sosial sejumlah
pemuda memilih meneladani budaya
materialis Barat yang dipropagandakan
secara luas oleh dunia maya. Parahnya
lagi mereka kini mulai enggan untuk
berumah tangga dan cenderung
memilih untuk membujang serta hidup
di dunia maya. Seiring dengan
masuknya komputer dan internet dalam
ranah kehidupan pemuda serta daya
tariknya, khususnya atmosfer bebas
dan tanpa identitas sebenarnya telah
mendorong para pemuda semakin
jarang berinteraksi dengan sesama
anggota keluarga atau famili. Oleh
karena itu, pemuda saat berada di
dunia maya dan ketika bersama orang-
orang asing merasa memiliki
kebebasan dan keamanan. Namun ini
hanya sebuah perasaan palsu, karena
mereka hidup di dunia nyata dan
bukannya di dunia maya. Padahal dunia
maya sangat berbeda dengan dunia
nyata.
Selain itu, sejumlah beragamnya kanal
dan laman sosial serta bertumpuknya
nilai-nilai serta budaya yang dibawa
orang lain membuat para pemuda
mengalami kelemahan di bidang
identitas sosial. Oleh karena itu, ketika
pemuda memasuki ranah sosial serta
dihadapkan dengan realita dan kendala
sosial, maka mereka tidak memiliki
kemampuan yang cukup untuk
menghadapinya. Maka tak heran saat
itu, ia dilanda kebingungan dan merasa
tidak layak. Para pakar meyakini,
pemuda yang menggunakan internet
secara berlebihan memiliki rasa percaya
diri yang lebih lemah ketimbang orang
lain yang sebaya dengan mereka.
Meski teknologi modern memiliki
banyak manfaat, namun nilai-nilai
seperti individualisme, mengejar
kepentingan pribadi, sekularisme dan
konsumtif yang diberikan oleh dunia
maya telah menimbulkan dampak
negatif bagi perilaku pemuda. Pemuda
yang dapat bertahan dari pengaruh ini
adalah mereka yang memiliki
kemampuan besar dalam menganalisa
dan memahami beragam pesan ini.
Kelompok pemuda seperti ini
memanfaatkan internet untuk
kepentingan ilmiah dan hal-hal yang
konstruktif ketimbang hanya sekedar
mencari hiburan dan menghabiskan
waktu.

0 Response to "Akibat canggihnya teknologi komunukasi"

Post a Comment