
Tidak ada jalan untuk mendapatkan petunjuk Allah melainkan melalui Islam.Tidak ada jalan memahami Islam melainkan memahami al-Quran dan as-Sunnah dengan metode-metodenya yang sahih.Sayangnya masih ada di kalangan yang mengklaim diri mereka muslim lebih suka kepada interpretasi-interpretasi Islam yang tidak berpusat pada pemahaman yang benar terhadap al-Quran dan as-Sunnah.Di antara mereka ada pula yang begitu tertarik jika memiliki aliran atau interpretasi agama yang tersendiri dan menyimpang dari petunjuk al-Quran dan as-Sunnah.Diantaranya dengan bergabung atau menganut ajaran sebagian tarekat atau aliran spiritual yang membuat beberapa interpretasi agama yang sangat bahaya pada penilaian aqidah Islamiyyah. Golongan seperti ini menganggap diri, guru dan aliran yang mereka ikuti adalah istimewa dan mulia. Mereka bangga dengan interpretasi-interpretasi aneh yang menyimpang jauh dari jalan petunjuk yang nyata.Mereka mengklaim mereka telah menemukan ilmu spiritual dan makrifat.Justru itu, mereka tidak lagi tergantung pada hukum lahir atau pada syariat yang dipegang golongan zahir atau publik.Mereka menuduh mereka adalah golongan batin atau kenyataan yang memiliki ilmu ladunni (ilmu langsung dari Allah), kasyaf (singkapan hijab) yang tidak lagi membutuhkan lagi nash-nash al-Quran dan as-Sunnah Sebenarnya, tarekat atau aliran kesufian yang seperti ini sangat berbahaya karena menatijahkan kerusakan aqidah dan tulisan ini akan mencoba membahasnya dengan singkat.
Kepentingan Aqidah Telebih dahulu harus seseorang menyadari bahwa persoalan `aqidah adalah inti kepada ad-din.Tanpa aqidah yang shahih yaitu yang berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah maka seluruh praktek adalah sia-sia belaka, sekalipun nampak pada zahirnya hebat. Firman Allah: Maksudnya "Siapapun yang beramal dengan amalan yang shalih apakah pria atau perempuan dalam keadaan dia mukmin, mereka itu masuk surga dan mereka tidak dianiaya meskipun sedikit" (QS an-Nisa ': 124) Dalam ayat di atas Allah dengan jelas mensyaratkan seseorang yang ingin melakukan amal solih itu harus mukmin yaitu beriman kepada Allah dalam arti iman yang nyata dan pasti tidak melakukan hal-hal yang merusak.Dengan itu orang yang akidahnya rusak maka amalannya sama sekali tidak diterima bahkan terlihat banyak dan besar.Ini karena setiap amalan dalam Islam dibangun di atas dasar aqidah.
Iktikad Yang Merusak Iktikad yang ada pada sebagian kalangan tarekat yang menganggap bahwa orang yang sudah sampai ke tingkat tertentu dalam praktek atau tarekat yang mereka ikuti maka dia tidak lagi tergantung kepada syariat seperti tidak perlu lagi shalat, puasa, jihad dan sebagainya.Mereka beranggapan seharusnya yang perlu beramal adalah golongan umum sedangkan mereka adalah golongan khusus atau anggota fakta atau tercerahkan. Sebenarnya harus diketahui bahwa paham ini termasuk dalam aliran kufur dan sesat yang telah lama diperdebatkan dan ditentang oleh para ulama Ahl as-Sunnah wa al-Jama`ah.Mereka harus jelas bahwa kesimpulan perdebatan tersebut menyatakan kepercayaan atau pegangan tersebut bisa mengeluarkan mereka dari Iman dan Islam.Dalam kata lain ia dapat membatalkan syahadat mereka dan membuat mereka kafir.Para ulama aqidah memasukkan kepercayaan seperti itu dalam daftar hal kufur.Disebut dalam 'Taisir dhi al-Jalal wa al-Ikram bi Syarh Nawaqid al-Iman' seperti berikut: "Siapapun yang beriktikad bahwa sebagian manusia dibolehkan keluar dari syariat Muhammad saw maka dia adalah kafir.Ini berdasarkan firman Allah: (Maksudnya) "Siapapun yang mencari selain Islam sebagai din (agama) maka sama sekali tidak diterima darinya dan dia di akhirat termasuk dari kalangan yang rugi" (Surah Ali `Imran: 85)" (hlm 97, Cetakan Dar Isybilia, Saudi ) Al-Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Quran al-`Azim, menafsir ayat dalam Surah Ali `Imran di atas menyatakan:" Barangsiapa yang melalui suatu cara yang lain dari apa yang disyariatkan Allah maka sama sekali itu tidak diterima "(vol. 2 , ms 378, Cetakan Dar al-Ma'rifah, Beirut). Guru-guru ajaran sesat yang seperti ini biasanya akan mengemukakan kepada para pengikutnya yang jahil dalam memahami al-Quran dan as-Sunnah berbagai-bagi interpretasi palsu, bohong lagi menyesatkan. Para pengikut yang tidak begitu jelas pemahaman terhadap Islam akan menerima dan menganggap mereka memiliki argumen dan dalil yang kuat terhadap apa yang mereka percayai.Antara apa yang dijelaskan oleh golongan ini untuk melegalkan tindakan mereka yang menolak berdasarkan syariat dan menganggap mereka telah sampai ke suatu makam yang istimewa adalah: Penyimpangan Uraian Maksud al-Yaqin Mereka berhujjah dengan firman Allah dalam Surah al-Hijr ayat 99: Maksudnya: "Sembahlah Tuhanmu sampai datangnya kepadamu al-yaqin". Dengan membuat interpretasi salah mereka menyatakan bahwa ayat ini berarti "sembahlah kepada tuhanmu sehingga engkau memperoleh ilmu dan makrifat, setelah engkau telah mendapatkannya maka gugurlah kewajiban` ibadat ".Di sana ada lagi beberapa interpretasi lain yang mereka cipta untuk memungkinkan mereka menganggap kata al-yaqin dalam ayat di atas adalah berarti makam sufi.Ketika mereka menganggap diri mereka telah mendapatkannya maka kewajiban ibadat atau sesuai syariat sudah tidak diperlukan lagi karena ayat tersebut menyatakan sampai datangnya yakin maka ketika yakin yang ditafsirkan oleh mereka telah diperoleh maka syariat pun gugur.
Tafsiran Dering Sebenarnya kata al-yaqin di dalam ayat di atas telah ditafsirkan oleh semua mufassirin yang muktabar sebagai al-maut yaitu kematian.Dengan ini ayat tersebut berarti: "sembahlah Tuhanmu sampai datangnya kepadamu kematian" Al-Qadi Abu Bakr Ibn al-`Arabi di dalam kitabnya yang masyhur yaitu Ahkam al-Quran menjelaskan maksud ayat ini: "kata al-yaqin berarti al-maut (kematian), Allah memerintahkan agar terus menerus dalam ibadat selama-lamanya, yaitu seumur hidup. "Selanjutnya Al-Qadi Abu Bakr Ibn al-`Arabi mengemukakan alasan mengapa kata al-yaqin di dalam ayat di atas ditafsirkan sebagai al-maut.Yaitu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari, ketika Rasulullah mendatangi jenazah Utsman bin Madh`un, beliau bersabda: "Adapun dia telah datang kepadanya al-yaqin.Demi Allah aku mengharapkan untuk kebaikan ... "(vol. 3, hlm 116, Cetakan Dar al-Fikr, Beirut). Dari hadits riwayat al-Imam al-Bukhari (hadits ke-1243) yang dikemukan oleh al-Qadi Abu Bakr Ibn al-`Arabi dengan jelas menunjukkan Rasulullah saw mengucapkan kepada jenazah Utsman bin Madh`un yang telah meninggal, beliau menggunakan kata al- yaqin dengan dimaksudkan al-maut yaitu kematian.Dengan jelas sunnah atau hadits sendiri telah menafsirkan maksud ayat tersebut. Maka ini yang kokoh karena tafsiran yang paling kuat terhadap sesuatu ayat al-Quran adalah apakah di tafsirkan dengan ayat al-Quran yang lain atau dengan as-Sunnah.Setelah datangnya interpretasi yang ma'thur (dari Rasullullah) maka tidak bisa ada lagi setiap interpretasi aqli yang menyanggah penafsiran Nabi saw Dari ucapan Nabi saw yang jelas itu maka ayat tersebut berarti setiap mukmin diwajibkan terus beribadat sehingga tibanya kematian.Justru itu ternyata, ayat tersebut bukanlah argumen yang mendukung kesesatan golongan berkenaan balik itu adalah dalil yang menentang pendapat mereka yang menyimpang yang hanya membatasi ibadah sampai ke tingkat tertentu saja. Al-Imam Ibn Katsir dalam menafsirkan ayat dari surah al-Hijr tersebut, menyebut alasan lain yang membuktikan kesesatan interpretasi kaum tarekat atau sufi tersebut, katanya: "Sesungguhnya ibadah seperti shalat dan sejenisnya adalah wajib bagi bagi setiap insan selama akalnya masih berfungsi, maka harus dia mengerjakan shalat sesuai keadaannya.Ini seperti yang sabit di dalam Sahih al-Bukhari dari `Imran bin Husoin ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:" Shalatlah dalam keadaan berdiri, jika tidak mampu maka dalam keadaan duduk dan jika tidak mampu maka di atas lambung ".Berdalilkan ini menunjukkan kesalahan pendapat golongan mulhid yang berpendapat maksud al-yaqin adalah makrifat dan ketika telah seseorang di antara mereka telah memperoleh makrifat maka gugur darinya tuntutan agama.Ini adalah iktikad yang kufur, sesat dan jahil.Sesungguhnya para anbiya as dan sahabat mereka adalah golongan yang paling mengetahui tentang Allah, paling mengenali tuntutan-tuntutannya, sifat-sifatNya dan apa yang paling layak untuk mengagungkannya, namun begitu mereka adalah golongan yang paling kuat dan banyak ibadah serta terus menerus melakukan praktek kebaikan sehingga menemui kematian. Dengan itu maksud al-yaqin di sini adalah al-Maut (kematian) (vol. 2, hlm 581) Coba lihat dalam kutipan di atas al-Imam Ibn Katsir dengan jelas menghukum golongan ini sebagai mulhid (tidak percaya agama), kafir, sesat dan jahil.Ini menunjukkan betapa bahayanya kepercayaan seperti ini terhadap aqidah dan wajibnya golongan ini ditentang.
Menyelewengkan Tafsiran Kisah Musa dan Khidir Selain itu golongan ini juga beralasan dengan peristiwa Nabi Musa as dan Khidir as yang disebut di dalam al-Quran, di dalam Surah al-Kahf.Jika kita mengacu pada Surah al-Kahf (ayat 60-82) Allah menceritakan petualangan Nabi Musa menemukan Khidir as untuk menuntut ilmu darinya.Selama perjalanan Nabi Musa as menemani Khidir as, beliau telah melihat beberapa tindakan Khidir as yang Menyanggahi syariat yang diturunkan kepadanya (Musa) lalu beliau membantahnya.Setelah tiga kali pertanyaan serta bantahan dibuat oleh Musa as terhadap tiga tindakan yang dilakukan oleh Khidir, akhirnya Khidir pun tidak lagi mengizinkan Musa as mengikuti dan menceritakan rahasia segala tindakan-tindakannya yang dianggap oleh Nabi Musa as sebagai kesalahan. Dengan mempergunakan kisah dalam Surah al-Kahf tersebut maka kaum sufi atau tarekat yang sesat beralasan bahwa para wali dibolehkan tidak sesuai syariat para nabi dan dapat melakukan segala tindakan yang dianggap salah oleh golongan zahir tetapi haikatnya tepat di sisi ilmu hakikat atau ilmu ladunni.Ini disebut sama seperti tindakan Khidir yang tidak sesuai Nabi Musa as karena Khidir adalah wali Allah dia menilai dengan ilmu ladunni yang terus menerus dari Allah sedangkan Musa as adalah seorang nabi yang menilai dengan ilmu syariat semata.Justru itu golongan fakta tidak sama dengan golongan syariat dan golongan fakta tidak harus sesuai syariat seperti Khidir tidak perlu mengikuti Musa. Inilah pernyataan yang sangat bodoh untuk menilai apa yang terkandung di dalam lafaz-lafaz atau bentuk-bentuk ayat (siyaq al-Ayat) yang berarti bagi sesuatu interpretasi yang benar.Golongan sufi yang menyimpang dan tarekat yang sesat mempergunakan ayat 65 dari Surah al-Kahf yang menyebut: (Maksudnya) "Lalu mereka berdua (Musa dan Yusya 'bin Nun) telah bertemu seorang hamba (Khidir) dari kalangan hamba-hamba Kami (Allah) yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan Kami berikan kepadanya ilmu dari sisi Kami". Karena ayat itu menyebut min ladunna ilma (ilmu dari sisi Kami) maka muncul istilah ilmu ladunni. Dengan istilah ini ada golongan sufi dan tarekat yang sesat mengambil kesempatan untuk mengatakan mereka juga memiliki ilmu ladunni seperti Khidir oleh itu mereka tidak terikat atau tergantung dengan syariat lahir. Sebab itu seorang tokoh mufassir saat yaitu Solah `Abd al-Fatah al-Khalidi dalam mengomentari ayat ini dalam buku Ma`a Qasas as-Sabiqin fi al-Quran beliau menyebut:" Para penafsir golongan sufi telah berbicara dengan kata-kata yang aneh tentang ilmu ladunni dan memisahkan antara fakta dan syariat, yang lahir dan batin.Mereka telah mencampur aduk dan merusak dalam menafsirkan ayat-ayat ini dan juga sebaliknya. "(Vol. 2 ms 186. Cetakan Dar al-Qalam, Syiria). Dia juga mengutip beberapa ulasan para ulama tentang ayat ini, antaranya ulasan al-Imam as-Syinqiti di dalam tafsirnya, Adwa al-Bayan yaitu: "Sesungguhnya rahmat dan ilmu ladunni yang keduanya Allah karuniakan kepada kepada Khidir berarti kenabian dan wahyu.Ini karena Khidir berkata kepada Musa: (Maksudnya)"Aku tidak melakukannya dengan kehendakku".(QS al-Kahfi: 82) Perintah Allah tidak diketahui kecuali dengan jalan wahyu.Tidak ada jalan kepadanya melainkan wahyu.Allah telah menentukannya (pengetahuan tentang perintah) hanya dengan jalan wahyu dengan firmannya dalam Surah al-Anbiya ayat 45: (Maksudnya) "Katakanlah (Wahai Muhammad!) Aku hanya memberikan peringatan dengan wahyu".(Ibid. Hlm 190) Setelah mengumpulkan ulasan dan penafsiran para ulama tentang ilmu ladunni yang diisyaratkan oleh al-Quran, Solah al-Khalidi membuat kesimpulan seperti berikut, katanya: "Setelah melihat kata-kata dari para ulama kita maka kita dapat membuat suatu keputusan yang putus yaitu: Ilmu ladunni yang diisyaratkan oleh ayat tersebut, yang telah Allah ajarkannya kepada Khidir as sebenarnya adalah nubuwwah (kenabian) dan wahyu. Adapun pengakuan dan pernyataan kaum sufi tentang ilmu ladunni menurut pemahaman mereka itu, adalah batil, sesat, Menyanggahi syariat Islam dan petunjuk al-Quran.(Ms 92) Ini berarti seluruh tindakan Khidir adalah wahyu dari Allah.Khidir adalah nabi.Musa diutus kepada Bani Israil tidak diutus kepada Khidir.Khidir juga sebenarnya adalah Nabi yang menerima perintah langsung dari Allah melalui jalan wahyu.Dia tidak tergantung pada syariat yang dikhususkan kepada Bani Israil.Justru itu, segala tindakan Khidir adalah perintah Allah yang pasti melalui jalan wahyu dan tidak tergantung kepada ajaran Nabi Musa as yang diutus untuk Bani Israil.Adapun Nabi Muhammad adalah utusan untuk sekalian manusia tanpa kecuali dan tidak ada yang terlepas dari berada di bawah lembayung ajarannya. Al-Imam al-Allamah Ibn Abi al-`Izz dalam kitab aqidah yang yaitu Syarh al-`Aqidah at-Tahawiyyah dengan jelas menyebut persoalan ini dengan katanya: "Adapun orang yang berpegang dengan kisah Musa bersama Khidir as untuk memungkinkannya meninggalkan wahyu karena tergantung dengan ilmu ladunni, seperti yang dituntut oleh yang tidak mendapat taufik, maka dia adalah mulhid (atheis) dan zindik (munafiq).Ini karena Musa as bukanlah Rasul yang diutus kepada Khidir.Khidir juga tidak diperintah untuk mengikutinya.Sebab itulah Khidir bertanya Musa: "Apakah engkau Musa dari Bani Israil?" Jawab Musa: "Ya!" (Riwayat al-Bukhari). Adapun Muhammad adalah diutus untuk seluruh manusia dan jin.Jika Musa dan `Isa masih hidup maka mereka harus menjadi pengikutnya.Ketika `Isa turun ke bumi (pada akhir zaman) dia hanya akan berhukum dengan syariat Muhammad.Jadi siapa yang mengklaim bahwa posisi dia bersama Muhammad seperti Khidir bersama Musa atau memungkinkan (mempercayai) ini berlaku untuk siapapun di kalangan umat maka hendaklah dia memperbaharui keislamannya, akan dia kembali bersyahadat dengan syahadat yang benar karena dia telah keluar dari Islam keseluruhannya.Sama sekali dia bukan dari kalangan wali-wali ar-Rahman sebaliknya dia adalah wali-wali setan ".(Ms 511, cetakan al-Maktab al-Islami, Beirut). Lihatlah betapa jelasnya sikap para ulama akidah terhadap kaum sufi dan tarekat yang seperti ini.Nyata sekali, siapa yang mengklaim hal seperti ini terhadap dirinya atau orang lain seperti guru tarekat atau Syeikhnya maka dia sama sekali adalah keluar dari Islam.Selain itu, siapa yang mengklaim dirinya seperti Khidir berarti dia mengklaim dirinya diberikan wahyu seperti Khidir atau dalam kata lain dia mengaku menjadi nabi setelah datangnya penutup sekalian nabi.Ini adalah kekufuran di atas kekefuran. Al-Imam al-Qurtubi yang merupakan tokoh mufassir besar.Dia juga tidak lupa membahas persoalan ini dalam tafsirnya al-Jami 'li Ahkam al-Quran.Dia menukilkan ulasan gurunya al-Imam Abu al-`Abbas tentang golongan ahli kebatinan yang dihukum sebagai zindiq yaitu katanya: "Mereka itu berkata:" Hukum-hukum syara 'yang umum adalah untuk para nabi dan orang awam adapun para wali dan golongan tertentu tidak membutuhkan nas-nas (agama) sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang ada dalam hati mereka.Mereka berhukum berdasarkan apa yang terlintas dalam pikiran mereka ".Golongan ini juga mengatakan: "Ini karena kesucian hati mereka dari kotoran dan keteguhannya maka terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi, fakta-fakta ketuhanan, mereka mengikuti rahasia-rahasia alam mereka mengetahui hukum-hukum yang detil maka mereka tidak membutuhkan hukam-hakam yang bersifat umum seperti yang terjadi kepada Khidir.Cukup baginya (Khidir) ilmu-ilmu terserlah kepadanya dan tidak membutuhkan apa yang ada pada pemahaman Musa ".Golongan ini juga menyebut: "Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau telah diberikan fatwa oleh para penfatwa".Berikutnya al-Qurtubi berkomentar tuduhan ini dengan mengatakan: "Kata guru kami ra: Ini adalah kata zindiq dan kufur dibunuh siapa yang mengucapkannya dan tidak diminta darinya taubat, karena dia telah mengingkari apa yang diketahui dari syariat.Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalanNya dan melaksanakan hikmahNya bahwa hukum hakamnya tidak diketahui melainkan melalui perantaraan rasul-rasul yang menjadi para utusan antara Allah dan makhluk.Meraka adalah penyampai risalah dan perkataannya serta parser syariat dan hukum-hukum.Allah memilih mereka untuk itu dan mengkhususkan urusan ini hanya untuk mereka. "Dalam penjelasan tambahan al-Qurtubi menyebut lagi:" Telah menjadi ijma 'salaf dan khalaf bahwa tidak ada jalan mengetaui hukum-hukum Allah yang berhubungan suruhan dan larangan meskipun sedikit, melainkan melalui para Rasul. Siapapun yang mengatakan "Disana ada cara lain untuk mengetahui perintah dan larangan Allah tanpa melalui para rasul atau tidak membutuhkan para rasul maka dia adalah kafir, dieksekusi ......" (vol. 11, hlm 40-41, cetakan Dar al-Fikr, Beirut ). Demikian betapa tegasnya al-Imam al-Qurtubi dalam mengomentari tuduhan sesat lagi kufur ini untuk membuktikan betapa bahayanya iktikad yang seperti ini.Bahkan kebanyakan para ulama Ahli as-Sunnah tidak lupa untuk memperingatkan hal ini setiap kali mereka menyebut kisah Musa dan Khidir untuk memerangi orang yang mempergunakan interpretasi yang salah lagi sesat ini untuk memperlihatkan keistimewaan diri dan akhirnya mereka tercerumus ke lembah kekufuran.Umpamanya, lihatlah ulasan yang begitu jelas oleh Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah dalam Majmu 'al-Fatawa dalam menentang pemahaman-pemahaman yang seperti ini. Demikianlah para ulama yang lain bagi setiap zaman.Maka golongan ilmuan yang ada pada zaman ini juga harus memerangi hal yang seperti ini.Ini karena aliran kepercayaan ini masih ada dan mempengaruhi kalangan yang jahil dan mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari agama.Jika mereka tidak ditentang habis-habisan maka akan hancur binaan Islam dan yang tinggal hanyalah Islam tanpa syariat.
0 Response to "Tarekat yang sesat lagi kufur"
Post a Comment