Spiritualitas Dalam Puasa dan Konflik Etika Sosial


buzzcity
BULAN telah tiba, dan umat Islam seluruh dunia akan menyambutnya dengan penuh sukacita karena kenikmatan menjalankan puasa akan membangkitkan semangat baru guna menjalani kehidupan dengan energi spiritual yang makin besar.

PUASA yang substansinya menekan dan mengendalikan hawa nafsu dengan memperbanyak tazakkur, tafakkur, tadarrus akan menciptakan keseimbangan hidup yang ideal. Al Quran menegaskannya dengan la'allakum tattaqun di mana puasa akan meningkatkan takwa. Takwa dengan pengertian menjaga keseimbangan hidup melalui pengendalian diri yang ketat.

Namun, cita-cita ideal puasa sering berbenturan dengan realitas sosial, apalagi menjelang hari raya Lebaran karena kekhusyukan puasa sering diporak-porandakan persiapan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran. Padahal, ibarat seseorang pembalap sepeda, ia harus meningkatkan kayuhannya secara hati-hati agar dapat menjelang finis dengan selamat dan menang. Kemenangan puasa pada dasarnya adalah kemenangan hati nurani melalui pengayaan spiritualitas yang terwujud dalam pengendalian diri yang sempurna, bukan dengan balas dendam untuk melampiaskan nafsunya kembali, di saat sudah dilepaskan jeratannya. Puasa akan sia-sia jika dimensi spiritualnya tidak mampu menerangi konflik etika sosial yang makin hari terasa makin kompleks.

Makna spiritualitas puasa

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh misteri, bukan karena asal mula kejadiannya yang kompleks, tetapi juga perjalanan kehidupannya yang tidak pernah dapat dipastikan. Secara individual tidak pernah ada peristiwa di mana seseorang terlibat dalam proses kejadian penciptaan dirinya, sejak dari proses dalam kandungan sampai kelahirannya. Seseorang lahir dalam ketidakberdayaan sempurna tidak mampu untuk menghidupi diri sendiri, sepenuhnya tergantung perawatan dan kasih sayang ibu atau orang lain. Ia lahir dengan warna kulit dan jenis kelamin yang sudah melekat tanpa ada persetujuan lebih dulu dari dirinya, demikian juga yang berkaitan dengan hari, tanggal, tempat, dan jam serta caranya keluar dari rahim ibunya.

Hal sama terjadi dengan kematiannya. Seseorang tidak pernah tahu pasti kapan ajal kematian akan menjemputnya dan dengan cara bagaimana kematian datang seperti musibah kecelakaan bus wisata pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yayasan Pembinaan Generasi Muda (Yapemda) Yogyakarta di Situbondo dengan merenggut nyawa 55 penumpang, meninggal terbakar dalam bus yang terkunci, semua orang terkaget dan keluarganya tidak pernah menduganya.


Kehidupan dan kematian manusia penuh misteri dan sepenuhnya ada dalam genggaman perkasa dari kekuatan gaib yang berada di luar dirinya.
Maka dalam ibadah puasa, seseorang belajar betapa berat menahan haus dan lapar dalam kehidupan normal, sebagai proses pelepasan memasuki dimensi pengalaman spiritual yang aktual. Pada saat dorongan jasmani membutuhkan makan dan minum dan melampiaskan hasrat seksual di siang hari, ia harus segera menahannya. Tidak boleh hanya sampai di situ, karena yang lebih penting dalam puasa adalah munculnya kesadaran transendental dengan menahannya, lalu mengantarkan seseorang memasuki pengalaman spiritual yang mencerahkan.

Pengalaman spiritual yang diolah dan dimaksimalkan melalui qiyamul-lail, yaitu bangun malam untuk melakukan shalat, memperbanyak dzikir dan pikir mengenai perjalanan hidupnya akan menjadi proses pembebasan rohani untuk memasuki pengalaman berada di sisi Allah. Karena itu, jika puasa seseorang hanya sampai pada kemampuan menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi tidak dilanjutkan dengan olah batin guna memasuki dan mengalami hidup dalam realitas spiritual, puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja, ia hanya merasakan kehausan dan kelaparan yang melelahkan.

Dimensi spiritualitas puasa terasa kian diperlukan, di saat kehidupan modern semakin intensif menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani yang hanya sesaat, apalagi dihadapkan pada sempitnya waktu dan terburu-buru, membuat banyak orang yang jatuh dalam perbuatan bodoh, yang kemudian amat disesalinya. Maka ibadah puasa adalah masa jeda di mana manusia mengambil jarak dengan kepentingan dan kesenangan yang bersifat fisik dengan menghitung baik buruknya dan untung ruginya secara spiritual.


Karena itu, ibadah puasa amat mengasyikkan dan selalu ditunggu-tunggu datangnya, marhaban ya ramadhan, selamat datang wahai bulan ramadhan, bulan yang penuh ampunan, berkat, dan rahmat.

Konflik etika sosial

Di masyarakat kita kini sedang berkecamuk konflik etika sosial, seperti terlihat pada fenomena seorang perampok sepeda motor yang tertangkap basah, dihakimi massa sampai babak belur, lantas tubuh yang sudah tak berdaya itu disiram bensin dan dibakar sampai hangus, sementara koruptor yang merenggut kekayaan rakyat miliaran rupiah, dibiarkan lenggang kangkung menikmati hasil korupsinya. Seorang pemimpin mengatakan perlunya berhemat dan memakai produk dalam negeri, sementara mereka sendiri menggelar pesta ulang tahun yang mewah di hotel berbintang lima milik perusahaan asing.

Konflik etika sosial kian mengeras, apalagi menghadapi perubahan dan pergeseran ekonomi, politik, dan budaya yang kian kompleks dan global. Akibatnya, etika yang berbasis formalisme agama mengalami guncangan hebat ketika menghadapi kenyataan bahwa di balik semua itu muncul kekuatan sekuler yang merupakan ancaman fundamental bagi keberlangsungan hidupnya. Oleh sebab itu, etika sosial yang berbasis formalisme agama akan melawan sekeras-kerasnya etika sosial yang sekuler. Semua itu menunjukkan terjadinya konflik etika sosial yang amat berbahaya dan mengancam solidaritas kebangsaan.

Dalam bulan puasa ini, konflik etika sosial kian menguat dan menyata seperti kesibukan Pemerintah DKI Jakarta menertibkan jam buka tempat-tempat hiburan malam, dan desakan tuntutan beberapa kelompok keagamaan agar semua komponen bangsa menghormati bulan puasa. Sementara itu, para pekerja tempat hiburan merasa terpinggirkan, bahkan pendapatannya menyusut drastis, padahal beban menghadapi Lebaran dan pulang mudik kian besar. Konflik etika sosial itu akan terus berlangsung sepanjang zaman dan menorehkan luka dalam, sebagai konsekuensi dari tidak jelasnya standar etika negara kita sendiri, sebagai negara "bukan-bukan", bukan negara sekuler dan bukan negara agama.

Puasa bukan semata-mata untuk mencari solusi terjadinya konflik etika sosial dalam masyarakat, tetapi dapat memperkuat ketahanan spiritual individu yang menjalaninya untuk mengendalikan diri dalam menghadapi tantangan dan akibat terjadinya konflik sosial dalam berbagai aspek kehidupannya. Pada hakikatnya, puasa dapat menghaluskan budi pekerti, tidak melawan dengan kekerasan fisik, tetapi dengan contoh keteladanan yang menyejukkan kehidupan bersama karena dirinya puasa. Kata nabi, katakanlah Inni sho'im, Saya puasa, karena itu saya menjaga diri. Puasa harus ditunjukkan dengan penjagaan diri dari perbuatan yang asosial.

Mengapa konflik kekerasan yang berbasis faham keagamaan di masyarakat tidak kunjung usai dan tidak kunjung dapat diatasi? Persoalannya bukan semata-mata politik dan ekonomi, tetapi sudah terkait persoalan paling fundamental dalam kehidupan, yaitu soal kualitas pendidikan dan pemahaman agama yang cenderung antipluralitas. Realitas plural kehidupan di bumi dalam berbagai aspek dan dimensinya, ternyata tidak memperkaya keberagamaan seseorang karena dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan agamanya sendiri. Padahal, agama justru diharapkan memberi jiwa dan ruh dari langit agar pluralitas menjadi sesuatu yang dapat memperkaya keimanan dan kesalihan. Jika tidak, kehidupan di bumi ini akan tercabik-cabik oleh pluralitas yang kompleks.

Puasa telah tiba. Apakah kedatangannya akan memperkaya keberagamaan kita, tergantung bagaimana kita menjalaninya. Puasa harus dapat menghancurkan berhala egoisme untuk menang sendiri karena kemenangan hanya ada kalau egoisme dapat ditaklukkan. Berpuasa jangan jadi egois.
buzzcity

0 Response to "Spiritualitas Dalam Puasa dan Konflik Etika Sosial"

Post a Comment