Merayakan hari kemenangan bersama orang tersayang merupakan momen yang yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Merasakan kebahagiaan bersama-sama di hari yang senantiasa menjadi pemersatu antar keluarga, kerabat, dan handai taulan dengan tradisi saling memaafkan. Helatan sakral yang hanya bisa dirasakan sekali dalam setahun bernama Hari Raya Idul Fitri.
Indonesia merupakan negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Tercatat ada 87 persen atau sekitar 207 juta jiwa umat Islam di negeri dengan jumlah penduduk sebesar 238 juta jiwa ini yang tersebar merata dari Sabang hingga Merauke (Sumber: Majalah Tempo edisi 5 April 2015). Sehingga sangat berpotensi memunculkan perbedaan dalam beberapa aspek keislaman. Namun meski demikian landasan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW menjadi pijakan yang tidak boleh terpisah.
Perbedaan semacam ini memang menjadi hal yang lumrah. Selama tetap berada dalam koridor keislaman yang sebenarnya. Munculnya berbagai pandangan terhadap praktik-praktik ke-Islaman yang dikenal dengan istilah mazhab menjadi rujukan oleh umat Islam dalam menjalankan kehidupan. Empat mazhab yang populer dan mendapat pengakuan mayoritas diantaranya Hambali, Hanafi, Syafi’i, dan Maliki.
Pemahaman dalam menerapkan mazhab-mazhab tersebut oleh sebagian umat Islam diimplementasikan dalam bentuk organisasi keagamaan. Indonesia memiliki dua organisasi keagamaan terbesar yaitu Nahdhtaul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Pandangan yang berbeda dalam menerapkan beberapa aspek keislaman oleh kedua organisasi tersebut tak jarang berpotensi pada perbedaan berbagai hal. Termasuk dalam menetapkan awal dan akhir pada bulan hijriyah.
NU menggunakan metode rukyat al hilal dalam menentukan awal bulan Hijriyah. Tak terkecuali pada penetapan hari raya Idul Fitri. Yaitu dengan melihat kemunculan bulan sabit pertama setelah terjadinya ijtimak (kongjungsi). Penampakan pertama kali pada bulan sabit tersebut dinamakan dengan hilal.
Dalam melakukan pengamatan terhadap hilal bisa dilihat dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik berupa teleskop. Pengamatan ini hanya bisa dilakukan setelah matahari terbenam atau memasuki waktu Maghrib agar cahaya bulan sabit yang redup mudah terlihat. Jika hilal terlihat, maka pada waktu Maghrib tersebut telah memasuki awal bulan. Tetapi jika hilal tidak terlihat, maka penetapan awal bulan adalah pada waktu Mahghrib keesokan harinya.
Sementara Muhammadiyah menerapkan metode hisab dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau awal bulan Hijriyah. Secara harfiah hisab bermakna perhitungan. Sehingga penetapan awal bulan pada kalender Hijriyah untuk menentukan posisi bulan dilakukan secara matematis. Penetapan berdasarkan hisab juga menggunakan metode ilmu falak (astronomi). Dengan cara menentukan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.
Menentukan waktu dengan melibatkan keberadaan bulan dan matahari merupakan dasar bagi umat Islam dalam menetapkan waktu-waktu untuk beribadah. Keberadaan matahari dimanfaatkan sebagai penunjuk pada tiga waktu salat fardhu yaitu Dzuhur, Ashar, dan Maghrib. Sementara keberadaan bulan menjadi penentu awal atau akhir suatu bulan dalam perhitungan Hijriyah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran, “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (QS. Arrahman: 5)
Dalam menentukan awal Idul Fitri pemerintah secara resmi melakukan musyawarah dengan dua organisasi keagamaan terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah yang dinamakan dengan Sidang Isbat. Hasil keputusan dari sidang tersebut diharapkan bisa menjadi acuan bagi umat Islam di Indonesia untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri secara bersamaan. Untuk menepis perbedaan awal bulan Syawal yang sering terjadi selama ini.
Hampir setiap tahun, sidang isbat yang diputuskan sering menggunakan metode hasil penetapan yang dilakukan oleh NU. Sehingga berpotensi menimbulkan kecemburuan bagi pihak lain. Konflik kecemburuan semacam ini pernah terjadi pada Sidang Isbat tahun 2012 silam. Ketika itu, Muhammadiyah melayangkan protes terhadap pemerintah yang dianggap tidak pernah mendengar keputusan yang diambil oleh pihaknya. Hal ini membuat organisasi yang dicetuskan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut enggan turut dalam penentuan Sidang Isbat.
Selama dekade terakhir, persoalan perbedaan penetapan awal bulan Syawal tak jarang terjadi di negeri ini. Seperti yang dialami pada tahun 2006, 2007, dan 2011. Umat Islam di Indonesia dihadapi dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri yang berbeda. Di saat sekelompok pengikut organisasi keagamaan tertentu masih berlapar-lapar menjalankan puasa hari terakhir, pada hari bersamaan pula pengikut organisasi keagamaan yang berbeda telah bergembira menyambut hari kemenangan.
Kejadian semacam ini membuat momentum hari penuh kegembiraan bersama orang-orang tersayang menjadi keprihatinan tersendiri khususnya bagi mereka yang berbeda jamaah organisasi dengan sanak saudara lainnya. Mau tidak mau ucapan tradisi saling meminta maaf harus disampaikan dengan saudara yang telah merayakan lebaran meski mengucapkannya dalam kondisi sedang berpuasa. Kejadian yang tidak seharusnya terjadi jika para pemimpin organisasi keagamaan di negeri ini mau bermusyawarah untuk menyatukan perbedaan yang terjadi.
Lebih memprihatinkan lagi ketika momen penetapan bulan Syawal yang terjadi pada tahun 2011. Di saat umat Islam telah bersiap menyambut Idul Fitri keesokan harinya tiba-tiba harus dilanda rasa kecewa karena pada malam yang sama pemerintah menginformasikan bahwa satu Syawal diundur dua hari kemudian karena hilal tidak terlihat. Sajian khas Lebaran yang telah dipersiapkan terpaksa harus dihangatkan kembali. Menu berbuka puasa seketika menjadi spesial dengan sajian besar khas Lebaran yang tertunda. Sebagian orang kembali melaksanakan salat tarawih.
Diharapkan agar para pemuka organisasi keagamaan mau menyatukan perbedaan yang terjadi selama ini terkait penetapan awal bulan Syawal. Mengesampingkan ego pribadi demi kemashlahatan umat Islam. Bukan disebabkan rasa cemburu karena perlakuan istimewa yang didapat oleh pihak lain. Tetapi dapat disikapi secara bijak dengan musyawarah untuk mencapai kemufakatan.
Sehingga tidak terjadi lagi perbedaan
dalam merayakan hari kemenangan di negeri dengan jumlah Muslim terbesar di dunia ini. Tidak ada salahnya kedua organisasi keagamaan terbesar tersebut melakukan rujukan terhadap negara-negara Islam lainnya agar didapatkan solusi yang bisa mempersatukan umat Islam di Indonesia. Solusi untuk mempersatukan dalam merayakan hari kemenangan Idul Fitri agar dapat dirayakan secara bersama-sama.
Walaupun masih saja ada yang merayakan lebaran hari ini sabtu 18 juli 2015,seperti di jakarta dan juga di jombang jatim,tetapi secara mayoritas lebaran tahun ini kompak tanpa ada perbedaan di dua tubuh besar organisasi islam di indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Tercatat ada 87 persen atau sekitar 207 juta jiwa umat Islam di negeri dengan jumlah penduduk sebesar 238 juta jiwa ini yang tersebar merata dari Sabang hingga Merauke (Sumber: Majalah Tempo edisi 5 April 2015). Sehingga sangat berpotensi memunculkan perbedaan dalam beberapa aspek keislaman. Namun meski demikian landasan Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW menjadi pijakan yang tidak boleh terpisah.
Perbedaan semacam ini memang menjadi hal yang lumrah. Selama tetap berada dalam koridor keislaman yang sebenarnya. Munculnya berbagai pandangan terhadap praktik-praktik ke-Islaman yang dikenal dengan istilah mazhab menjadi rujukan oleh umat Islam dalam menjalankan kehidupan. Empat mazhab yang populer dan mendapat pengakuan mayoritas diantaranya Hambali, Hanafi, Syafi’i, dan Maliki.
Pemahaman dalam menerapkan mazhab-mazhab tersebut oleh sebagian umat Islam diimplementasikan dalam bentuk organisasi keagamaan. Indonesia memiliki dua organisasi keagamaan terbesar yaitu Nahdhtaul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Pandangan yang berbeda dalam menerapkan beberapa aspek keislaman oleh kedua organisasi tersebut tak jarang berpotensi pada perbedaan berbagai hal. Termasuk dalam menetapkan awal dan akhir pada bulan hijriyah.
NU menggunakan metode rukyat al hilal dalam menentukan awal bulan Hijriyah. Tak terkecuali pada penetapan hari raya Idul Fitri. Yaitu dengan melihat kemunculan bulan sabit pertama setelah terjadinya ijtimak (kongjungsi). Penampakan pertama kali pada bulan sabit tersebut dinamakan dengan hilal.
Dalam melakukan pengamatan terhadap hilal bisa dilihat dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik berupa teleskop. Pengamatan ini hanya bisa dilakukan setelah matahari terbenam atau memasuki waktu Maghrib agar cahaya bulan sabit yang redup mudah terlihat. Jika hilal terlihat, maka pada waktu Maghrib tersebut telah memasuki awal bulan. Tetapi jika hilal tidak terlihat, maka penetapan awal bulan adalah pada waktu Mahghrib keesokan harinya.
Sementara Muhammadiyah menerapkan metode hisab dalam menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau awal bulan Hijriyah. Secara harfiah hisab bermakna perhitungan. Sehingga penetapan awal bulan pada kalender Hijriyah untuk menentukan posisi bulan dilakukan secara matematis. Penetapan berdasarkan hisab juga menggunakan metode ilmu falak (astronomi). Dengan cara menentukan posisi matahari dan bulan terhadap bumi.
Menentukan waktu dengan melibatkan keberadaan bulan dan matahari merupakan dasar bagi umat Islam dalam menetapkan waktu-waktu untuk beribadah. Keberadaan matahari dimanfaatkan sebagai penunjuk pada tiga waktu salat fardhu yaitu Dzuhur, Ashar, dan Maghrib. Sementara keberadaan bulan menjadi penentu awal atau akhir suatu bulan dalam perhitungan Hijriyah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran, “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” (QS. Arrahman: 5)
Dalam menentukan awal Idul Fitri pemerintah secara resmi melakukan musyawarah dengan dua organisasi keagamaan terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah yang dinamakan dengan Sidang Isbat. Hasil keputusan dari sidang tersebut diharapkan bisa menjadi acuan bagi umat Islam di Indonesia untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri secara bersamaan. Untuk menepis perbedaan awal bulan Syawal yang sering terjadi selama ini.
Hampir setiap tahun, sidang isbat yang diputuskan sering menggunakan metode hasil penetapan yang dilakukan oleh NU. Sehingga berpotensi menimbulkan kecemburuan bagi pihak lain. Konflik kecemburuan semacam ini pernah terjadi pada Sidang Isbat tahun 2012 silam. Ketika itu, Muhammadiyah melayangkan protes terhadap pemerintah yang dianggap tidak pernah mendengar keputusan yang diambil oleh pihaknya. Hal ini membuat organisasi yang dicetuskan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut enggan turut dalam penentuan Sidang Isbat.
Selama dekade terakhir, persoalan perbedaan penetapan awal bulan Syawal tak jarang terjadi di negeri ini. Seperti yang dialami pada tahun 2006, 2007, dan 2011. Umat Islam di Indonesia dihadapi dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri yang berbeda. Di saat sekelompok pengikut organisasi keagamaan tertentu masih berlapar-lapar menjalankan puasa hari terakhir, pada hari bersamaan pula pengikut organisasi keagamaan yang berbeda telah bergembira menyambut hari kemenangan.
Kejadian semacam ini membuat momentum hari penuh kegembiraan bersama orang-orang tersayang menjadi keprihatinan tersendiri khususnya bagi mereka yang berbeda jamaah organisasi dengan sanak saudara lainnya. Mau tidak mau ucapan tradisi saling meminta maaf harus disampaikan dengan saudara yang telah merayakan lebaran meski mengucapkannya dalam kondisi sedang berpuasa. Kejadian yang tidak seharusnya terjadi jika para pemimpin organisasi keagamaan di negeri ini mau bermusyawarah untuk menyatukan perbedaan yang terjadi.
Lebih memprihatinkan lagi ketika momen penetapan bulan Syawal yang terjadi pada tahun 2011. Di saat umat Islam telah bersiap menyambut Idul Fitri keesokan harinya tiba-tiba harus dilanda rasa kecewa karena pada malam yang sama pemerintah menginformasikan bahwa satu Syawal diundur dua hari kemudian karena hilal tidak terlihat. Sajian khas Lebaran yang telah dipersiapkan terpaksa harus dihangatkan kembali. Menu berbuka puasa seketika menjadi spesial dengan sajian besar khas Lebaran yang tertunda. Sebagian orang kembali melaksanakan salat tarawih.
Diharapkan agar para pemuka organisasi keagamaan mau menyatukan perbedaan yang terjadi selama ini terkait penetapan awal bulan Syawal. Mengesampingkan ego pribadi demi kemashlahatan umat Islam. Bukan disebabkan rasa cemburu karena perlakuan istimewa yang didapat oleh pihak lain. Tetapi dapat disikapi secara bijak dengan musyawarah untuk mencapai kemufakatan.
Sehingga tidak terjadi lagi perbedaan
dalam merayakan hari kemenangan di negeri dengan jumlah Muslim terbesar di dunia ini. Tidak ada salahnya kedua organisasi keagamaan terbesar tersebut melakukan rujukan terhadap negara-negara Islam lainnya agar didapatkan solusi yang bisa mempersatukan umat Islam di Indonesia. Solusi untuk mempersatukan dalam merayakan hari kemenangan Idul Fitri agar dapat dirayakan secara bersama-sama.
Walaupun masih saja ada yang merayakan lebaran hari ini sabtu 18 juli 2015,seperti di jakarta dan juga di jombang jatim,tetapi secara mayoritas lebaran tahun ini kompak tanpa ada perbedaan di dua tubuh besar organisasi islam di indonesia.

0 Response to "menepis perbedaan,menyatukan umat dalam kompaknya penetapan idul fitri 2015"
Post a Comment